WAHANANEWS.CO, Jakarta - Malam datang lebih cepat di desa itu sejak banjir dan longsor memutus segalanya. Tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa jalan yang bisa dilewati kendaraan.
Ketika matahari tenggelam di balik bukit, gelap menjadi satu-satunya teman. Di sudut rumah panggung yang masih lembap, seorang ibu menyalakan lampu minyak, sementara anaknya memeluk buku yang huruf-hurufnya tak lagi terbaca jelas.
Baca Juga:
PLN Libatkan Tim Nasional Percepat Pemulihan Listrik di Aceh Tamiang
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh menjelang akhir 2025 bukan sekadar merusak rumah dan jalan. Ia memutus cahaya.
Ratusan desa terisolir, sebagian berada jauh di pedalaman, di balik rawa, hutan, dan perbukitan. Bagi warga, listrik bukan hanya soal terang, tetapi tentang hidup yang kembali bergerak.
Pertengahan Desember 2025, kabar baik datang. Sistem kelistrikan utama di Aceh berhasil dipulihkan.
Baca Juga:
Pemulihan 98 Persen, PLN Pastikan Instalasi Listrik Warga Aceh Tamiang Aman
Sebanyak 6.425 desa kembali menikmati aliran listrik. Di banyak tempat, lampu rumah menyala untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu padam.
Namun, cerita belum selesai. Masih ada 75 desa terakhir. Desa-desa yang berada di titik terdalam, terjauh, dan terekstrem.
Tempat di mana jalan masih tertutup lumpur, jembatan belum sepenuhnya tersambung, dan kendaraan roda empat tak mampu masuk. Di sinilah perjuangan sesungguhnya dimulai.
Tim PLN bergerak perlahan namun pasti. Mereka berjalan kaki menembus rawa, memikul peralatan di punggung, menyusuri bukit licin, dan membuka jalur di tengah hutan.
Di beberapa lokasi, material listrik diangkut secara manual, bergantian dari tangan ke tangan. Setiap meter kabel yang terbentang adalah hasil dari keringat dan tekad.
“Selama masih ada rumah yang gelap, kami akan terus bergerak,” ujar salah satu petugas PLN di lapangan, sambil membersihkan lumpur yang menempel di sepatunya.
Baginya dan rekan-rekannya, medan berat bukan alasan untuk berhenti. Justru di sanalah tugas mereka menemukan maknanya.
Pemulihan listrik berjalan seiring dibukanya akses jalan oleh alat berat dan gotong royong warga. Ketika satu jalur berhasil dilewati, tim langsung menyusul. Tidak ada perayaan besar, hanya senyum kecil saat lampu di rumah warga akhirnya menyala.
Di sebuah desa terpencil, seorang kakek berdiri lama di depan rumahnya malam itu. Ia menatap lampu yang menggantung di ruang tengah, menyala terang setelah lama padam.
“Sudah seperti Lebaran,” katanya pelan. Bagi dia, cahaya itu adalah tanda bahwa desa mereka belum dilupakan.
PLN memahami, listrik bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah denyut kehidupan. Tanpa listrik, sekolah sulit berjalan, layanan kesehatan terbatas, dan ekonomi berhenti. Karena itu, tidak boleh ada satu pun desa yang tertinggal dalam gelap.
Satu per satu, 75 desa itu diperjuangkan. Tidak dengan janji besar, tetapi dengan langkah nyata di lapangan. Menyambung kabel, memperbaiki tiang, menyalakan kembali harapan.
Karena bagi mereka yang tinggal di titik terjauh negeri, terang bukan kemewahan. Terang adalah hak. Terang adalah laju kehidupan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]