WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT PLN (Persero) mengungkapkan bahwa kerusakan infrastruktur kelistrikan akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh tergolong paling masif sejak bencana tsunami 2004.
Skala kerusakan yang meluas di ratusan titik membuat proses pemulihan membutuhkan penanganan bertahap dan perencanaan yang matang.
Baca Juga:
Kolaborasi Jadi Kunci, PLN Percepat Pemulihan Kelistrikan di Aceh
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut bahwa dampak bencana kali ini jauh berbeda dibandingkan dengan tsunami Aceh pada 2004. Menurutnya, sebaran kerusakan jaringan listrik saat ini jauh lebih luas dan kompleks.
“Untuk bencana kali ini dibandingkan dengan tsunami 2004 itu sangat berbeda. Pada saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan ada di delapan titik, sedangkan bencana kali ini di Aceh ada 422 titik. Jadi skalanya sangat berbeda dan sangat masif,” ujar Darmawan dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana yang disiarkan daring, beberapa waktu lalu.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga mengakui bahwa kondisi infrastruktur kelistrikan di sejumlah wilayah Aceh masih menghadapi tantangan besar.
Baca Juga:
PLN Gandeng Pemda dan Aparat Buka Akses, Listrik Aceh Tengah Berangsur Normal
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa meski secara umum sistem kelistrikan Aceh relatif aman, perbaikan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Kemarin ada beberapa titik yang longsor, dipasang, kemudian kena longsor lagi. Karena itu, kami memastikan kelistrikan tetap aman, namun keselamatan masyarakat juga harus diutamakan,” kata Tri saat ditemui di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Selain besarnya skala kerusakan, PLN juga menghadapi kendala akses menuju lokasi terdampak serta kondisi pemukiman warga yang belum sepenuhnya aman.