Darmawan menegaskan, PLN memilih bersikap hati-hati demi mencegah risiko kecelakaan listrik yang dapat membahayakan warga.
“Rumah pelanggan masih banyak yang tertimbun lumpur. Kalau langsung kami aliri listrik, risikonya sangat besar, bisa korsleting dan tersengat listrik. Karena itu, keselamatan menjadi prioritas utama kami,” tegasnya.
Baca Juga:
Kolaborasi PLN dan Warga Tanam 400 Pohon, ALPERKLINAS: Model Mitigasi Berbasis Lingkungan
Selain pemulihan jaringan listrik rumah tangga, PLN juga terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas publik, seperti rumah sakit dan puskesmas.
Namun, sebelum listrik dapat difungsikan, PLN harus memastikan seluruh area aman dengan membantu proses pembersihan lumpur dan pengecekan instalasi.
Darmawan juga mengungkapkan bahwa skala kerusakan sistem kelistrikan akibat bencana kali ini jauh lebih besar dibandingkan tsunami Aceh 2004.
Baca Juga:
PLN UID Jabar Perkuat Kompetensi EV di SMKN 8 Bandung, Dari Teori Jadi Praktik Nyata
“Pada saat tsunami 2004, titik kerusakan sistem kelistrikan hanya delapan titik. Sekarang mencapai 442 titik, sehingga penanganannya jauh lebih kompleks,” katanya.
PLN memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait agar pemulihan listrik dan hunian warga dapat berjalan seiring, aman, dan berkelanjutan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]