Tim PLN bergerak perlahan namun pasti. Mereka berjalan kaki menembus rawa, memikul peralatan di punggung, menyusuri bukit licin, dan membuka jalur di tengah hutan.
Di beberapa lokasi, material listrik diangkut secara manual, bergantian dari tangan ke tangan. Setiap meter kabel yang terbentang adalah hasil dari keringat dan tekad.
Baca Juga:
Menembus Gelap Aceh yang Terisolir: PLN Kembalikan Cahaya di Desa-desa Terdampak Bencana
“Selama masih ada rumah yang gelap, kami akan terus bergerak,” ujar salah satu petugas PLN di lapangan, sambil membersihkan lumpur yang menempel di sepatunya.
Baginya dan rekan-rekannya, medan berat bukan alasan untuk berhenti. Justru di sanalah tugas mereka menemukan maknanya.
Pemulihan listrik berjalan seiring dibukanya akses jalan oleh alat berat dan gotong royong warga. Ketika satu jalur berhasil dilewati, tim langsung menyusul. Tidak ada perayaan besar, hanya senyum kecil saat lampu di rumah warga akhirnya menyala.
Baca Juga:
PLN Libatkan Tim Nasional Percepat Pemulihan Listrik di Aceh Tamiang
Di sebuah desa terpencil, seorang kakek berdiri lama di depan rumahnya malam itu. Ia menatap lampu yang menggantung di ruang tengah, menyala terang setelah lama padam.
“Sudah seperti Lebaran,” katanya pelan. Bagi dia, cahaya itu adalah tanda bahwa desa mereka belum dilupakan.
PLN memahami, listrik bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah denyut kehidupan. Tanpa listrik, sekolah sulit berjalan, layanan kesehatan terbatas, dan ekonomi berhenti. Karena itu, tidak boleh ada satu pun desa yang tertinggal dalam gelap.